Arsip

Archive for the ‘sastra’ Category

Iwan Fals Adakan Konser di Buntet Pesantren


Iwan Fals di Buntet Pesantren

Iwan Fals di Buntet Pesantren

Tidak disangka jika musisi kondang yang bernama Virgiawan Listianto atau Iwan Fals ini mengadakan tour  musik (9/3) yang dikenal dengan Perjalanan Sepiritual di Buntet Pesantren, Cirebon. Sebab selama ini belum pernah ada konser musik diadakan pesantren ini. Tentu saja sambutan meriah dari para warga muda pecinta Iwan Fals ini berjubel. Ribuan penonton dan simpatisan berbaur. Ada ceramah dari KH. Abbas Billy Yacshsie sebagai upaya menenangkan massa saat ribut penonton.

Baca selanjutnya…

Santri pun Bisa Cepat Belajar Bahasa Inggris

24 Juni, 2010 6 komentar


Saya menemukan banner menarik  di sini, bicara tentang belajar bahasa Inggris dengan cepat dan praktis. Mualnaya saa tidak percaya, setelah saya klik ternyata sebuah sistem belajar bahasa Inggris tanpa keluar rumah alias via internet by phone, by email alis by staying at home. Nah ini dia!

Baca selanjutnya…

“Bacalah!” dimana Semangatmu?

11 Februari, 2008 82 komentar

Gambar dari Google

Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Wahyu pertama al quran surat al Alaq ini sifatnya umum, berlaku bagi siapa saja dan kalangan mana saja. Namun sepertinya kurang diminati oleh penduduk Indonesia pada umumnya yang mayoritas muslim.

Ironisnya diimani oleh bangsa-bangsa (negara) maju. Sebab di sini, tingkat minat baca berdasar penelitian di Jawa Barat baru-baru ini ada 1:45 (satu koran dibaca untuk 45 orang). Jauh di bawah Filipina dan Sri Lanka.

Dengan dua negara Asia saja negara kita masih kalah apalagi negara maju seperti USA dan Jepang. Memang ada korelasi antara minat baca dan kemajuan bangsa. Menurut sumber data dari media, di Jepang jumlah tiras koran yang dibaca mencapai 1 juta perhari sementara di Amerika 2.8 juta per hari. Tetapi Indonesia masih mending karena ada dua negara di bawah Indonesia yaitu Laos dan Kamboja.

Di Sri Lanka, minat baca masyarakat terhadap media cetak 1:38 dan Filipina 1:30.Idealnya,untuk ukuran penduduk Indonesia yang tergolong besar ini satu media cetak dibaca sepuluh orang atau 1:10 tapi kenyataanya 1:45. Pantas saja jika media massa di negara kita kurang menggembirakan.

Baca selanjutnya…

Latah (bencana) Puisi

2 Januari, 2008 54 komentar

Ingat ibu-ibu (maaf kebanyaikan ibu-ibu loh) yang sering latah kalau dikageti oleh suara sekitar. Entah penyebab latah ini darimana sehinga kalau latah semua “perlengkapan lelaki” meluncur tanpa sensor dari mulutnya. Penyakit latah ini makin menjamur di tempat kerja dan di tetangga.

Bukan hanya ibu-ibu yang latah, tapi di Indonesia sekarang pun sedang latah, dari mulai puting beliung di berbagai daerah, banjir, hujan deras terus-terusan dan lain-lain. Mestinya latah bencana pun memicu latah lainnya yaitu latah peduli, latah menyumbang, dan akhirnya latah terhadap kesadaran pada kesadaran kepada Tuhan, alam dan dirinya sendiri.

Ah tidak tahu saya, yang jelas saya sedang latihan latah. Saat berkomentar di blog bang Ersis. Di sana ada lomba membuat “puisi latah” 🙂 . Gara-gara satu dua puisi bertengger di sana saya juga ikutan komentar tak tahunya komen itu adalah puisi.

Jadilah saya latah. Tapi latah saya bukan “barang lelaki/wanita” yang diungkapkan tapi lebih dalam dari sekedar “barang” yaitu Pokoke™ Cinta.  🙂  ya semoga saja latihan latah saya ini bisa melatahi segala bentuk-bentuk cinta yang lainnya. Kepada manusia, kepada alam kepada diri sendiri dan kepada Allah Rabbul Izaati, Pendidik Sejati. Amin 🙂 narsis deh…
Baca selanjutnya…

Merdeka! Versi Ulama

23 Agustus, 2007 4 komentar

Dirgahayu Republik Indonesia ke-6.. para ulama membela kemerdekaan RIHASIL ngaji dengan kyai (guru)  kita bisa mengetahui makna merdeka versi ulama. Ternyata ada banyak makna merdeka yang connect bainal teks wal konteks. Setidaknya ada empat kata: Dua diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir dari makna budaya. Makna keempatnya itu tercerap dalam Pancasila dan UUD 45.

Baca selanjutnya…

Gundik dalam Burung-burung Manyar

5 April, 2007 8 komentar

Lis Sunaryo & Susilo Mansurudin

“Burung Burung Manyar” adalah karya Y.B. Mangunwijaya atau banyak yang menyebut sebagai Romo Mangun. Roman ini terbit tahun l981. Banyak yang menyebut roman ini sebagai roman yang sarat dengan pengungkapan sejarah perjalanan nusantara sampai pada orde baru.
Roman ini bisa dikatagorikan sejarah karena menyingkap tiga kurun waktu perjalanan sejarah Republik Indonesia. Dimulai dari bagian pertama, dari periode l934-l944; yang menceritakan tokoh Setadewa yang lahir pada saat Indonesia dijajah Belanda. Selain tokoh Setadewa, Roma Mangun juga menampilkan tokoh yang mengiringi perjalanan Setadewa –meski berseberangan– hingga di akhir cerita, yakni tokoh penting bernama Larasati.

Baca selanjutnya…

Kategori:sastra