Arsip

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Prof. Dr. HAMKA: Habib Ali Kwitang (Jakarta) dan Habib Tanggul (Sholeh Alhamid-Jember) itu Ahlul Bait

4 Juni, 2012 4 komentar

Kali ini saya mengetengahkan postingan seputar habaib dan ahlul bait dan ini dinyatakan sendiri dalam fatwa Prof. Dr. HAMKA. Kita tahu bahwa beliau ada orang MUI masa dulu, dan berasal dari Muhammadiyah. Jadi yang bicara tentang Ahlul Bait itu bukan saja orang NU, tetapi MD pun mengakuinya. Dalam tulisan sebelumnya gelar dan sebutan sayyid telah beliau tulis.

Iklan

Iwan Fals Adakan Konser di Buntet Pesantren


Iwan Fals di Buntet Pesantren

Iwan Fals di Buntet Pesantren

Tidak disangka jika musisi kondang yang bernama Virgiawan Listianto atau Iwan Fals ini mengadakan tour  musik (9/3) yang dikenal dengan Perjalanan Sepiritual di Buntet Pesantren, Cirebon. Sebab selama ini belum pernah ada konser musik diadakan pesantren ini. Tentu saja sambutan meriah dari para warga muda pecinta Iwan Fals ini berjubel. Ribuan penonton dan simpatisan berbaur. Ada ceramah dari KH. Abbas Billy Yacshsie sebagai upaya menenangkan massa saat ribut penonton.

Baca selanjutnya…

Islam KTP dan Islam Taat

17 September, 2010 6 komentar

Oleh: KH Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang

Istilah di atas, yang sejak lama kita kenal, kini tidak banyak lagi digunakan. Yang disebut Islam KTP adalah orang yang di dalam KTP disebut beragama Islam, tetapi dianggap bukan pemeluk Islam yang taat karena tidak menjalankan ibadah ritual seperti salat, zakat, atau haji. Kalau mereka berpuasa dan berderma, mungkin tidak seluruh puasa dan derma itu sama dengan puasa dan zakat yang sesuai dengan syariat Islam. Terkesan istilah Islam KTP bermaksud menunjukkan bahwa mereka tampaknya Islam, tetapi bukan Islam yang sesungguhnya.

Baca selanjutnya…

Demokrasi Lumpuh Total oleh Bom

28 Desember, 2007 17 komentar

Bagi kalangan yang suka dengan kekerasan atas nama agama campur-sari dengan politik, mungkin wafatnya tokoh fenomenal di Pakistan, Benazir Bhutto dianggap sebagai kekalahan kaum modernis atau liberal. Sebab tokoh pejuang demokrasi Palestina itu sangat berani menentang arus kuat kekuasaan di satu sisi dan dipihak lain penentang Islam garis tebal, nama lain dari Islam garis keras.

Salah satu ajaran Islam fundamentalis adalah dilarang wanita jadi pemimpin. Karenanya, keberanian mengusung demokrasi ala Benazir ini mendapat tekanan kuat pada kalangan ini. Sebab semangat demokrasi Benazir itu begitu kuat seperti dia katakan:

Demokrasi sangatlah penting bagi kelangsungan perdamaian dan untuk mengatasi terorisme.

Baca selanjutnya…

Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama

27 Desember, 2007 46 komentar

Kang Cecep (KH. Cecep Nidzomuddin)Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.

Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek ūüôā .

Baca selanjutnya…

Antara Syariat Syekh Siti Jenar & Wali Lainnya

15 November, 2007 81 komentar

Terinspirasi oleh Tulisan Danalingga yang menarik tentang masalah Syahadat Siti Jenar yang dikaitkan dengan merebaknya aliran sesat. Tulisan ini sequel dari tulisan sebelumnya.

MENUJU Tuhan rupanya menjadi hal yang terus menerus diupayakan para hamba pencinta. Dalam ajaran agama, banyak cara dan jalan yang ditempuh oleh para ulama (rohaniwan) mengajarkan pada kita. Salah satu contoh di dalam ajaran Islam mengenal istilah adalah gerakan batin (hake­kat).

Semisal yang dica­nangkan oleh Al Hallaj dan diterus­kan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia. Wali ini tidak dimasukan dalam ling­kungan atau anggota Wali Sanga. Mungkin kare­na sistem dan metodanya tidak sama. Tetapi gene­rasinya terus berkem­bang hingga kini. Tidak mengetahui di mana shalatnya.

Di samping itu ada banyak jenis gerakan selain Syekh Siti Jenar yang dica­nang­kan oleh para Wali (songo). Dianta­ranya adalah thareqat. Pertanyaanya, apa­kah gerakan tarekat yang dicanang­kan para wali itu masuk dalam kategori syareat atau gerakan hakekat?

Islam lahir didahului oleh hakekat baru kemudian syareat. Buktinya Nabi saw lama bertahannuts (bermalam) di gua Hira. Beliau menghabiskan malam-malam­nya di sana untuk beribadah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt. Beberapa malam kemu­dian, turun­lah wahyu pertama. Di sinilah syareat mulai dibentuk untuk umatnya.

Namun pada giliran periode berikutnya, muncul gerakan yang mirip hakekat yang diajarkan oleh Al Hallaj yang cukup bertentangan dengan syareat pada umum­nya. Beratus tahun kemu­dian hadir pula di Indonesia. Pelopor­nya adalah Syekh Siti Jenar.

Gerakan ini cukup berhasil membawa para pengi¬≠kutnya untuk terus mengupayakan gerak¬≠an ini berkembang. Entah bagai¬≠ma¬≠na, akhirnya syareat yang biasanya dianut oleh masyarakat umum tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus utama dalam beri¬≠badah kepada Allah. Yang hadir dan ramai di anut oleh masyarakat adalah sejenis hakekat. Di antara yang kerap dibicarakan orang adalah ung¬≠kapan ‚Äúeling‚ÄĚ. Atau ‚Äúmanungaling kaula Gusti‚ÄĚ. Semacam penyadaran akan penya¬≠tuan antara hamba dengan Tuhannya.

Konon ajaran itu masuk dalam kategori hakekat. Adapun syareat­nya tidak seperti para penganut Islam biasanya. Atau barang­kali tidak ada syareat sama sekali. Sean­dainya pun ada syareat, maka dipastikan sangat berbeda dengan para pemegang rukun Islam pada umumnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar, salah satunya, menurut salah satu pembimbing tarekat, adalah gera­kan shalat di atas daun. Generasinya hingga kinipun ma­sih mem­praktek­kannya. Selembar daun di­po­tong dan digelar sebagai sajadahnya lalu melak­sanakan shalat di atas daun itu di per­muka­an air.

Baca selanjutnya…

Energi Getaran dalam Hati

26 Oktober, 2007 14 komentar

hati yang bergetarApa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.

Bagaimana dengan getaran hati??